Category Archives: air terjun coban rondo

Coban Rondo, air terjun coban rondo, wisata coban rondo, legenda coban rondo, coban rondo batu, malang, wisata di jawa timur, tempat wisata air terjun

Sejarah Coban Rondo

Coban-Rondo-Malang1.jpg

Sejarah Coban Rondo

Berkunjung ke Malang, Jawa Timur, Anda dapat menjumpai beberapa lokasi wisata air terjun. Salah satunya adalah Air Terjun  Obyek wana wisata ini merupakan salah satu obyek wisata yang mudah ditempuh. Jalan menuju ke lokasi sudah beraspal dan letaknya tak terlalu jauh, yakni sekitar 12 kilometer dari Kota Batu. tepatnya berada di desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Air terjun di Coban Rondo memiliki ketinggian 60 M dan merupakan wahana air terjun yang paling mudah di tempuh.

Di area sekitar Air Terjun Coban Rondo sudah dilengkapi fasilitas-fasilitas memadai seperti bumi perkemahan dan penginapan. Tak hanya itu, obyek wisata ini juga menawarkan wahana flying fox, outbond, naik gajah, persewaan sepeda gunung, dan sebagainya.

Air Terjun Coban Rondo sendiri memiliki ketinggia 84 meter dan berada di ketinggian 1.135 meter dari permukaan air laut. Air terjun ini berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo. Tak hanya sebagai obyek wisata, Air Terjun Coban Rondo juga digunakan untuk pengelolaan air minum PDAM bagi masyarakat sekitar.

Keindahan alam Air Terjun Coban Rondo ternyata konon menyimpan cerita cinta tragis. Alkisah hiduplah Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusumo yang baru saja melangsungkan pernikahan. Saat pernikahan mereka menginjak usia 36 hari, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro, tempat suaminya dilahirkan. Walau sempat dilarang oleh kedua orang tua mereka, keduanya tetap berangkat bersama beberapa pembantunya.

Di tengah perjalanan tiba-tiba rombongan tersebut dihadang oleh Joko Lelono, seorang yang tak jelas asal-usulnya. Joko Lelono terkesima akan kecantikan Dewi Anjarwati dan bermaksud menculiknya. Untuk melindungi istrinya, Raden Baron Kusumo memerintahkan para pembantunya untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di tempat yang ada ‘coban’-nya. Coban adalah sebutan untuk air terjun dalam bahasa Jawa. Setelah Dewi Anjarwati dilarikan para pembantunya, Raden Baron Kusumo berduel dengan Joko Lelono.

Tragisnya, sang suami yang berusaha melindungi istrinya itu tewas dalam perkelahian tersebut. Begitu pula dengan lawannya, Joko Lelono. Sejak saat itu Dewi Anjarwati yang sedang bersembunyi di balik batu besar pada sebuah air terjun pun menjadi seorang janda, atau dalam bahasa Jawa disebut rondo. Dari kisah tersebutlah kemudian muncul nama Air Terjun Coban Rondo.

Pesona Jejak Dewi Anjarwati

Di balik nama magis Coban Rondo, menurut cerita tutur, dahulu kala terdapat manten anyar (pengantin baru) mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan sang suami berasal dari Gunung Anjasmoro bernama Raden Baron Kusumo. Menginjak 36 hari pernikahan (dalam adata Jawa disebut selapan) sang mempelai wanita mengajak sang suami untuk berkunjung ke rumah mertua di Gunung Anjasmara.. Tak pelak hal yang tidak diinginkan pun terjadi, di tengah jalan keduanya dihadang Joko Lelono yang kesengsem dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Perkelahianpun tak terelakan yang pada akhirnya membunuh keduanya, sesuai dengan pesan Raden Baron, Dewi Anjarwati bersembunyi di tempat yang terdapat di coban itu.

Batu yang terdapat di bawah air terjun, konon tempat Dewi Anjarwati meratapi nasibnya sebagai rondo teles, setelah ditinggal suami yang baru menikahinya. Menurut mitos yang berkembang, jika ada sepasang kekasih datang ke Coban Rondo akan segera putus kisah cintanya setelah bertandang. Sesuai dengan nama wisata air terjun ini Coban Rondo atau air terjun janda. Pasangan kekasih yang datang ke sana konon akan menjadi rondo alias janda alias jomblo.Silahkan anda dan pasangan membuktikan. Kalau aku, untungnya pas kesana tidak dengan pacar jadi gak bakalan rondo gitu hehe… Ketika di sana, aku tak henti-henti mengagumi air terjun dengan ketinggian 84 meter itu.

Menikmati Ramainya Coban Rondo
Dekatnya lokasi Coban Rondo dari tempatku tinggal di Jl Gajayana Kota Malang, membuat aku dan temanku memutuskan untuk berangkat di saat matahari mulai bergeser ke tengah. Kira-kira jam 10.30, kami berdua memutuskan untuk segera melihat pemandangan indah Coban Rondo. Aku ingin segera merasakan udara dingin yang menggigit di sana.

Beruntung perjalanan kami tidak diwarnai macet meski kami memilih hari Minggu untuk pergi ke wisata air terjun nan asri itu. Langit masih bersahabat untuk tidak menurunkan titik-titik air pada kami, karena biasanya, Kota Malang dan Batu tidak mengenal waktu untuk mengguyur penduduknya dengan curah hujan.

Memasuki Kota Batu, hawa dingin menyambut kami berdua. Aku yang pada saat itu tidak memakai jaket bisa merasakan sapaan dingin yang menusuk tulang dan persendian kakiku. Hawa dingin itu mulai menghilang seiring mataku yang terbuai pemandangan hijau, kuncup-kuncup bunga warna kuning di pinggir jalan di kawasan Payung sebagian sudah merekah. Dedaunan seolah dibalut embun abadi yang setia menyelimuti. Bunga-bunga itu menyambut kehadiranku, mereka seperti tersenyum. Temanku mulai memelankan motor yang kami kendarai,  lantaran ada beberapa aspal yang rusak, hingga jalan hanya bisa di lalui satu arah. Beberapa pengendara dari arah yang berlawanan menunggu giliran untuk melenjutkan perjalanan.

Deretan warung yang belekangan baru aku tahu adalah di kawasan payung berjajar menjajakan bakso, susu murni, berbagai lalapan dan jagung bakar. Sayang, kami sudah sarapan sebelumnya. Andai belum, mungkin kami akan bertandang untuk sekedar duduk menikmati Kota Batu dari ketinggian.

Memasuki wilayah wisata air terjun Coban Rondo, setelah membayar tiket, kami mulai memperlambat laju sepedah motor yang kami kendarai sembari menikmati tarian pohon pinus dan cemara. Sesampainya di lokasi, kami di suguhi seragam pedagang dengan menjajakan mulai makanan,maianan penutupkepala hingga syal.

Hanya saja, ramainya pengunjung justru mengusik rasa nyamanku untuk menikmati alam bebas dan panorama magis Coban Rondo, yang konon menyiratkan banyak misteri. Niatku untuk menjajakan kaki pada aliran dingin air terjun Coban Rondo terpaksa kami urungkan , lataran banyak anak bermain air di sana. Ah… semoga lain kali aku bisa kembali menyapa Coban Rondo yang sepi.

Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo adalah tempat wisata yang berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari Kota Malang jaraknya sekitar ±50km dan ditempuh selama 2 jam perjalanan. Akses yang paling mudah adalah melalui jalan raya Malang-Batu dari sebelah timur, atau melalui Kediri-Pare menuju Malang dari arah barat. Air Terun ini juga mudah dilalui berbagai jenis kendaraan umum.

Coban Rondo terletak pada ketinggian 1135 m di atas permukaan laut. Air terjun ini memiliki ketinggian 84 meter dengan debit air berkisar antara 90 liter per detik pada musim kemarau sampai dengan 150 liter per detik pada musim penghujan.

Coban Rondo sebenarnya merupakan bagian dari kelompok air terjun bertingkat (dimulai dengan air terjun kembar bernama Coban Manten, yang bergabung menjadi satu dinamakan Coban Dudo, dan kemudian mengalir ke bawah dengan nama Coban Rondo).

Dan sekarang Wisata Coban Rondo bukan hanya sekedar tempat untuk Wisata Alam saja seperti camping dan trekking, tapi sekarang disini sudah tersedia banyak sekali progam-progam kegiatan wisata yang bisa dinikmati seperti Outbound, Flyingfox, Paragliding, Tubing, Rafting, Airsoftgun, Paintball, Tasung, Junggle Trekking, Paralayang, Wisma dll.

Coban Rondo

Disini kami ingin membantu anda mendapat informasi dan melayani progam kegiatan wisata yang anda butuhkan di Coban Rondo, hubungi contact person kami disebelah kanan web. Terima kasih telah mengunjungi web kami.

Gak Cuma Air Terjun

Legenda Coban Rondo

Legenda leluhur mengisahkan bahwa asal-usul Coban Rondo berasal dari kisah asmara sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan.

Mempelai perempuan bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang menikah dengan Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjosmoro. Setelah usia pernikahan mencapai 36 hari (selapan: bahasa jawa), Dewi Anjarwati menggajak suaminya berkunjung ke rumah mertuanya di Gunung Anjosomoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena masih masa selapan. Menurut tradisi adat jawa, pasangan yang baru menikah dilarang pergi jauh bila usia pernikahannya baru selapan. Tetapi, kedua mempelai bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan.

Ketika dalam tengah perjalanan, keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono yang tidak jelas asal-usulnya. Ternyata Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat air terjun (coban : bahasa jawa). Perkelahian berlangsung seru dan ternyata akhirnya kedua-duanya gugur. Akibatnya status Dewi Anjarwati menjadi (rondo : bahasa jawa). Sejak saat itulah coban atau air terjun tempat Dewi Anjarwati bersembunyi dikenal dengan Coban Rondo.

Konon batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang puteri yang merenungi nasibnya.